Pasuruan (beritakota.net) – Proses penggemukan sapi potong ternyata tidak harus membutuhkan pakan rumput atau hijauan yang lain. Dengan memakan limbah yang ada di sekililingnya saja, seperti jerami, limbah singkong maupun bungkil pohon pisang, ternyata kualitasnya pertumbuhan sapi sangat bagus.

Itulah salah satu hasil penelitian dari Loka Penelitian Sapi Potong (Lolit Sapi Potong) Grati, Kabupaten Pasuruan, yang ditunjukkan kepada Wakil Menteri Pertanian RI, Wahyu Krisna Mukti, saat berkunjung ke tempat penelitian satu-satunya untuk sapi potong di Indonesia tersebut, Senin (23/8).

“Penggemukan ini sengaja dikhususkan untuk perkembangan peternakan di Jawa, karena rumput sudah sangat mahal bagi peternak. Makanya cukup dengan jerami saja, sapi bias terus tumbuh sesuai dengan kualitas yang diinginkan,” terang Mariyono, Kepala Lolit Sapi Potong.

Dengan keberadaan penelitian tersebut, diharapkan para peternak dapat serius mengembangkan usahanya. Pasalnya, peternak di Indonesia saat ini terkendala dengan pakan jika harus memelihara sapi diatas 5 ekor, akibat dari keterbatasan modal.

Dengan pakan yang tidak harus menggunakan rumput tersebut, otomatis para petani dapat dengan mudah mendapatkannya. Tapi tentu saja untuk memelihara tersebut juga ada metode serta manajemen yang menyertainya.

“Juga diteliti beternak seperti pola di masyarakat, yakni bergerombol dengan metode yang diatur ketat, ternyata justru lebih bagus dan kotoran bisa langsung jadi kompos. Bahkan dengan dipelihara bersama ini justru lebih mudah diketahui masa birahi sapi betina,” imbuh Mariyono.

Lebih lanjut disampaikan, meski sapi potong yang diternak tersebut dalam kandang tradisional seperti milik masyarakat, tanpa kandangnya harus dibersihkan dan sapi juga tidak dimandikan, namun kondisi sapi tetap bersih dan sehat. Diharapkan dari mudahnya beternak sapi potong tersebut dapat mewujudkan swasembada daging yang dicanangkan oleh pemerintah.

Sementara, Wakil Menteri Pertanian RI, Wahyu Krisna Mukti, mmengetahui keberadaan Lolit Sapi Potong Grati, justru menantang peneliti agar mampu memenuhi populasi sapi yang dibutuhkan. Artinya dengan penelitian yang dihasilkan bahwa masa birahi sapi dan memotivasi peternak lebih serius.

“Populasi sapi di Indonesia saat ini sekitar 12,5 juta ekor, padahal idealnya sebesar 15 juta hingga 16 juta ekor. Kekurangan 2,5 juta hingga 3 juta ekor sapi ini harus segera dipenuhi dalam tempo 5 tahun. Makanya kami minta para peneliti untuk segera memberikan konsep dan bisa langsung dikembangkan,” tegas Wahyu Krisna Mukti.

Diuraikan kebutuhan konsumsi daging sapi di Indonesia saat ini mencapai 230.000 ekor sapi untuk setiap bulannya. Angka kebutuhan tersebut semestinya diambil dari populasi jumlah sapi dengan prosentase 1,5 persen setiap bulan.

Dari populasi sapi yang ada ternyata, tidak mencukupi dan masih kurang hingga 3 juta ekor. Sehingga untuk konsumsi daging sapi masyarakat, pemerintah terpaksa import dari luar negeri.